Serial Hikmah : Belajar Bijak "karena Kita Tidak Tahu Apa yang Dialaminya Hari Ini"

image

Di sebuah kantor, seorang pegawai terlambat datang setengah jam. Akibatnya pimpinan memanggilnya, ia langsung dimarahi terkait dengan kewajiban-kewajiban karyawan. Tidak sampai di situ, pihak personalia juga memanggilnya dan mengatakan bahwa gajinya akan dipotong sebagai bentuk konsekuensinya. Saat rapat, ternyata flash disk yang berisi tugas-tugas kantor tertinggal. Ia dimarahi lagi. Saat makan siang teman-teman kantor menyindirnya, sebab si karyawan dalam seharian melakukan banyak kesalahan. Karyawan tersebut hanya diam. Ia makan sendiri di pojok kantin. Hingga saat sholat ia menangis dalam doanya, “Mengapa mereka tidak bertanya apa yang kualami hari ini Ya Allah.”

Kisah di atas bukan sekadar kisah fiksi. Tentu hal ini pernah dialami, oleh kita atau orang di sekitar kita. Posisi kita sebagai karyawan malang tersebut, pimpinan, pihak personalia, atau teman-teman karyawan?

Kita cenderung menghakimi seseorang tanpa bertanya terlebih dahulu. Hal ini terjadi karena kita biasanya menggunakan kaca mata yang pas, yang cocok menurut kita. Bahkan lebih arogan lagi, kita sering membandingkan diri kita dengan orang lain. “Aku yang rumahnya lebih jauh saja bisa datang lebih awal.”, “Aku juga punya banyak urusan tapi tugasku selesai.” dan sebagainya. Tapi kita lupa, kehidupan tak pernah sama dan tak bisa dibandingkan. Ada hal-hal yang menjadi keterbatasan bagi orang lain dan bagi kita, tidak . Sangat aneh jika kita membandingkan kehidupan dua orang yang berbeda dengan latar belakang yang berbeda tapi tuntutan sama.

Oleh karena itu kita harus lebih bijak dalam menyikapi banyak hal. Ada beberapa hal yang harus kita lakukan:

  1. Banyak mendengarkan
  2. Melihat dari beberapa sudut pandang
  3. Mendengar dari beberapa sudut pandang
  4. Berusaha memahami dan empati
  5. Mempercayai
  6. Pilihan kata dan gesture

Baik, mari kita ulas satu persatu :  

1.  Banyak mendengarkan

Alloh memberi kita dua telinga dan satu mulut. Tentu ada fungsinya, yakni kita harus lebih banyak mendengar daripada bicara. Tidak sekadar mendengar pastinya. Mendengarkan itu sama dengan ‘hear’ kalau dalam bahasa Inggris yang artinya mendengar sambil lalu. ‘Hear’ berbeda dengan ‘listen’, yang artinya mendengarkan dengan seksama. Mendengarkan itu butuh waktu, butuh perhatian, butuh fokus, dan menyertakan pikiran serta hati.

Dengan mendengarkan niscaya kita akan lebih bisa mudah memahami. Dengarkan dengan baik, tidak menyela, tidak memotong pembicaraan. Jika sudah mendengarkan jangan berkomentar untuk memberi nasihat yang tidak diperlukan. Terkadang orang bercerita bukan untuk meminta nasihat. Terlebih nasihat yang menggurui. Mereka hanya ingin didengarkan.

2.  Melihat dari berbagai sudut pandang

Alloh membekali manusia dengan dua mata. Jika kita tutup mata kanan maka mata kiri akan melihat sisi kiri dan sebagian sisi kanan demikian juga sebaliknya. Mata kita akan berfungsi normal dan sempurna jika keduanya terbuka.

Hal ini menjadi pelajaran bagi kita  bahwa ternyata dalam memandang sesuatu kita harus memandang dari beberapa sisi yang berbeda agar menemukan gambaran yang sempurna. Kita terkadang harus melepas kaca mata kita. Sebab kita tidak tahu, jangan-jangan kaca mata kita minus, atau plus, atau silinder sehingga kita tidak bisa melihat hal yang sama dengan orang lain.

Dalam pelajaran sastra kita mengenal adanya unsur intrinsik, point of view (sudut pandang). Sudut pandang ini menentukan peran dari pengarang. Ada sudut pandang orang ketiga, ada sudut pandang orang pertama. Sudut pandang orang ketiga jika kita menjadi orang yang melihat dari luar. Seperti para karyawan yang menyaksikan si karyawan malang dimarahi dan makan di pojok kantin sendiri. Sedangkan sudut pandang orang pertama adalah jika kita menjadi pelaku. Kita menjadi karyawan yang malang itu.

Sekarang kita coba bandingkan, manakah yang lebih membuat kita sentimental. Cerita karyawan di atas atau cerita di bawah ini:

Hari ini aku bangun terlambat. Semalam aku harus buat kue bantu ibuku. Sejak bapak pensiun aku membantu ibuku menjual kue di warung-warung untuk membantu mengepulkan dapur. Kedua adikku masih sekolah dan tak mungkin mengandalkan uang pensiun bapak sementara ibu juga harus terapi di RS sepekan sekali karena sakit. Pagi ini dengan tergesa-gesa aku ke warung-warung untuk menitipkan kue. Tapi pagi ini warung-warung langganan tutup sebab ada tetangga yang nikah jadi mereka ikut bantu. Aku harus ke pasar. Bagaimanapun juga kue ini harus terjual. Alhamdulillah, kueku bisa kutitipkan di tukang sayur kelililng. Saat aku mau berangkat ada anak sekolah yang terserempet mobil. Aku ada di dekatnya. Aku lalu bantu anak itu. Orang-orang tidak mau bantu, alasanannya karena tidak mau terlambat ke kantor. Aku tergesa mengangkat anak itu ke angkot, menitipkan agar di bawa ke RS karena aku juga jarus ke kantor. Syukurlah sopirnya baik. Aku berusaha cari bis yang penuh agar tidak ngetem tapi tetap saja terlambat.

Sampai kantor aku dimarahi jika aku sering terlambat. Aku sadar tapi kenapa seolah aku tak pernah berbuat sesuatu. Hampir tiap hari, aku sering lembur sampai sore jam 16.00 untuk kerjakan tugas kantor. Sementara yang lain pulang jam 15.00. Aku pulang sampai rumah jam 17.00, istirahat sebentar lalu bantu ibu membuat kue hingga jam 22.00.

Tak hanya dimarahi aku diminta ke personalia, gajiku juga dipotong. Sungguh, aku sedih. Bulan ini aku berencana hadiahkan sesuatu untuk bapak dan ibu. Tapi, rupanya tak bisa. Aku ingin cerita kepada teman-teman, sekadar share namun ternyata.. aku duduk sendiri, di pojok kantin. Aku dengar mereka membicarakanku. Sudahlah, untuk apa aku menceritakan hal-hal yang tidak ingin mereka dengar. Maka aku mengadu kepada-Nya di siang ini. Aku sedih.

Bagaimana? Sudahkah melihat dari dua sudut yang berbeda?

3.  Mendengar dari beberapa pihak

Meski kita punya pandangan yang sempurna dari beberapa sudut pandang. Tapi seolah hanya melihat dari luar kaca jika kita tidak tahu yang sebenarnya terjadi. Oleh sebab itu selain melihat kita juga perlu mendengar dari beberapa pihak.

Telinga kita tidak terletak berdekatan sebagaimana mata. Tapi berada di sisi yang berbeda. Lagi-lagi Alloh punya hikmah yang luar biasa di baliknya. Mendengarkan itu penting, tapi lebih penting lagi mendengarkan dari beberapa pihak agar kita bisa menilai dengan adil dan pas.

Mungkin teman-teman karyawan itu baru mendengar dari satu pihak saja, tapi mereka belum mendengar dari pihak si karyawan. Dari mendengar ini kita akan bisa mengetahui hal yang sebenarnya terjadi dan informasi yang lengkap. Hanya saja perlu kita pahami dulu, bahwa mencari informasi di sini bukanlah untuk kepentingan ‘mencari bahan pembicaraan’ melainkan agar kita bisa bersikap seharusnya. Sebab terkadang tidak semua hal yang diketahui oleh orang lain berhak kita tahu.

 4. Berusaha memahami dan empati

Memahami dan empati bukan pekerjaan mata ataupun telinga. Memahami dan empati adalah pekerjaan hati. Dalam ini artinya, kita tidak bisa  memaksakan diri untuk memahami dan berempati sebab hal ini datangnya dari hati. Jadi, saat ada teman yang share atau curhat kita harus menyertakan hati dalam melihat dan mendengarkan, niscaya hati akan bekerja.

Jika simpati adalah perasaan sedih, ikut berduka, ikut kecewa maka empati adalah usaha untuk membantu. Banyak orang yang ikut bersedih terhadap kejadian yang menimpa teman mereka. Tapi sedikit yang kemudian menemaninya, mendampinginya keluar dari kesedihannya, menarkan kebahagiaan, atau solusi yang tepat tak sekadar nasihat. Itu sebabnya sahabat dan teman itu berbeda. Itu juga mungkin sebabnya ada orang-orang yang saat kita tanya “Ada yang bisa kubantu?” ia hanya tersenyum. Ada orang-orang yang tak pernah mengekspresikan persaannya dengan baik kepada kita. Mungkin karena kita bukan orang yang tepat baginya.

Memang, kita tak bisa jadi yang terbaik bagi semua orang tapi jika kita jadi pimpinan atau atasan kita harus mencoba menjadi pemimpin yang baik. Salah satunya dengan berempati.

5.  Mempercayai

Tidak mudah percaya memang boleh-boleh saja. Tapi ini akan jadi masalah bila kita tidak mempercayai siapapun atau malah menganggap bahwa semua orang di sekitar kita adalah musuh.

Maka cobalah untuk percaya. Namun percaya yang baik adalah percaya setelah memahami. Jadi, kita pahami dulu agar nantinya kepercayaan kita ada pada tempatnya, tidak percaya buta. Selain itu dengan memahami, kita tidak akan kecewa saat orang tersebut bertindak tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Orang yang percaya sebelum memahami biasanya akan mengucapkan, “Oh, ternyata orangnya seperti itu!”

6.  Pilihan kata dan gesture

Dalam berkomunikasi pilihan kata dan gesture sangat penting. Sehingga tidak menimbulkan salah paham, salah persepsi. Sama-sama menanyakan alasan terlambat kita bisa menggunakan pilihan kata, “Mengapa terlambat? Apakah ada keluarga yang sakit? ” daripada “Terlambat terus. Kenapa?”

Ada sebagian orang yang kemudian menarik diri ketika sudah dituduh. Mereka cenderung diam dan menjadi tertutup. Tentu saja hal ini akan menghalangi komunikasi dan semakin memperparah hubungan. Sebaiknya, kita mulai belajar memilih kosa kata yang tepat agar tidak multitafsir.

Selanjutnya adalah gestur. Gestur merupakan ekspresi dan gerak tubuh. Gestur biasa mendukung ucapan yang kita sampaikan. Oleh sebab itu kita juga harus pandai-pandai memilih gestur. Cara tersenyum, cara menatap, mengangguk, tertawa, dsb.

Semoga dengan berbuat bijak kita akan menjadi pribadi yang adil dan dapat menentramkan bagi orang lain .

Author : Agustin T.A. aka ATA; pengajar di SMP IT Cahaya Insani Temanggung (SMP IT CINTA) , SMP Alam Arridho Semarang , Aktivis  cro' Club Temanggung . lihat profil lengkap beliau.

Jika Anda menyukai Artikel tulisan Motivator kita yang lain , baca juga tulisan di bawah ini :

  1. MERAIH SUKSES DENGAN 5 TEMAN GAIB
  2. Tips "MENJUAL" Jadi Semudah Membalikkan Telapak Tangan, Mau?
  3. "INSAN KAMIL" Model Manusia Muslim Paling POWERFULL Tahun 2012. Kita?  
  4. REBORN LIFE-Lahir Kembali Menjadi Lebih Berkualitas Agar Pantas Naik Kelas
  5. Memahami - LEVEL REZEKI ( Agar Kita Bisa Naik LEVEL )

Baca juga yang satu ini ya :

Jangan lupa bergabung di komunitas kami, sapa kami melalui komentar dibawah ini..

Fri, 24 Feb 2012 @06:04


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

visitor counter

 

Copyright © 2018 ekonovianto[dot]com · All Rights Reserved
powered by sitekno